Movie Review : Everest

Saya, jelas bukan seorang pendaki gunung ataupun mencintai hal-hal yang berhubungan dengan gunung. Walaupun saya senang dengan cuaca gunung yang sejuk. Tapi, jujur saja trailer film Everest begitu memikat di hati sehingga sangat tidak mungkin untuk melewatkan tontonan yang satu ini. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata di tahun 1996, dimana terjadi tragedi di Everest hingga menewaskan beberapa pendaki, dibesut oleh sutradara Baltasar Kormakur. Salah satu sumber referensi utama buku ini adalah buku laris Into Thin Air : A Personal Account of the Mt. Everest karya Jon Krakauer, salah satu pendaki yang selamat dari tragedi 1996.

Younameit! Productions (Ilustrasi : http://news.what-is-this.net/)

Younameit! Productions (Ilustrasi : http://news.what-is-this.net/)

Rob Hall (Jason Clarke), boleh dibilang seorang pionir dalam usaha komersialisasi pendakian gunung tertinggi di dunia, Everest. Dirinya dibantu oleh koordinator logistik, Helen Wilton (Emily Watson), peninjau lapangan, Guy (Sam Worthington), dan dokter, Caroline Mackenzie (Elizabeth Debicki). Lewat perusahaannya yang bernama Adventure Consultant, Rob sudah berhasil memandu 19 klien untuk mendaki Everest walaupun biayanya tidak murah, sekitar 65.000 US dolar. Di tahun 1996, Rob kembali mendapatkan 8 klien untuk diantarkan mendaki Everest. Di antaranya, Beck Weathers (Josh Brolin), Doug Hansen (John Hawkes), Yasuko Namba (Naoko Mori), dan Jon Krakauer (Michael Kelly). Masing-masing pendaki memiliki alasannya masing-masing untuk bisa menaklukkan Everest. Sayangnya, keinginan Rob untuk sampai ke puncak terbentur jadwal yang padat. Dimana di hari yang sudah ditentukan oleh Rob, ada rombongan lain yang dibawa oleh Scott Fischer (Jake Gyllenhaal) dan Anatoli Boukreev (Ingvar Sigordson), menuju puncak Everest. Sadar bahwa akan terjadi penumpukan yang bisa berakibat fatal, Rob mengajak Scott dan Anatoli untuk bekerjasama agar bisa sampai puncak di tanggal yang sama. Untungnya Scott dan Anatoli menerima tawaran Rob tersebut. Beberapa pendaki pun berhasil mencapai puncak, termasuk Yasuko yang akhirnya melengkapi pendakian 7 puncak tertinggi di dunia. Tapi, Doug yang berasal dari masyarakat biasa bersikeras untuk sampai ke puncak karena belum tentu dapat mengumpulkan uang lagi untuk tahun depan. Rob pun akhirnya menemani Doug ke puncak seorang diri. Tanpa disadari, badai yang sangat buruk mendekat ke arah puncak Everest dan itu artinya Rob hanya punya waktu yang sangat singkat untuk segera turun dari puncak gunung ke titik aman terdekat.

Salah satu poin yang bagi saya sangat positif adalah sinematografi luar biasa yang digarap oleh sinematografer Salvatore Totino. Walaupun beberapa angle ada yang harus menggunakan teknologi CGI, tetapi setiap detil visual berhasil menggambarkan suasana Everest sesungguhnya. Salut untuk Salvatore dan timnya untuk sisi visualisasi. Dari sisi cerita, menurut saya tidak banyak masalah berarti. Kekurangan dari sisi cerita adalah kurang imbangnya porsi drama dan porsi ketegangan yang hadir saat bencana badai salju datang. Pembangunan sisi drama digarap terlalu lama jika dibandingkan dengan beberapa ketegangan saat Rob harus bertahan hidup. Porsi drama memakan waktu hampir lebih dari setengah film ini. Jujur saja, menurut saya pribadi karena ini sebetulnya adalah film bergenre thriller-disaster, porsi ketegangan harusnya cukup banyak. Saya malah tidak terlalu merasakan ketegangan berarti di sepertiga akhir film. Padahal di bagian itulah bagian yang harusnya membuat penonton merasakan ketegangan. Hal lain yang terasa kurang ‘menggigit’ dari film ini adalah terlalu banyaknya karakter. Dimana seharusnya semua karakter harus digarap dengan maksimal, tapi nampaknya hal itu tidak dilakukan oleh Baltasar karena dia ingin penonton benar-benar terfokus pada sosok Rob. Jason Clarke sebagai Rob memang boleh dibilang berhasil dan dramatisasi yang dibangun bersama Keira Knightley menjadi salah satu kekuatan utama cerita. Tapi karena di hampir semua bagian film Rob memiliki interaksi yang cukup banyak, harusnya masing-masing karakter ini dibangun dengan baik. Salah satu contohnya adalah tokoh Beck yang memang banyak omong, tapi alasan dan latar belakangnya tidak terbangun dengan cukup kuat. Sehingga saat dia sekarat, tidak terasa efek drama melankoli di situ. Atau tiba-tiba di akhir film istri Beck berhasil mengirim helikopter hanya untuk menyelamatkan Beck seorang diri. Hal-hal seperti itulah yang membuat dahi penonton berkerut heran. Tapi, film ini jelas bukan film yang mengecewakan karena ada pesan yang mampu tersampaikan lewat film ini dimana kita tetap harus menghormati alam, karena walaupun kita berusaha menaklukkan alam, terkadang alam tetap keluar sebagai pemenang.

Video :

Penulis : Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>