Movie Review : Gangster

Awal mula saya tertarik untuk menonton film Gangster adalah trailernya yang menawarkan banyak adegan perkelahian seperti di film The Raid. Ditambah lagi hadirnya sosok Yayan Ruhian, salah satu bintang utama di The Raid. Selain itu, saya juga menyukai film lain dari Fajar Nugros yaitu 7 Hari 24 Jam, sehingga nama sutradara muda ini juga jadi salah satu pertimbangan saat saya memutuskan untuk nonton film Gangster. Beberapa alasan di atas terdengar saat personal. Tapi jujur saja, sebenarnya saya menaruh harapan besar sehingga film ini bisa menjadi salah satu film yang bisa dibanggakan di luar negeri. Apalagi genre action adalah salah satu genre yang rasanya mudah dijual untuk menarik minat penonton.

Younameit! Productions (Ilustrasi : http://www.muvila.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi : http://www.muvila.com/)

Gangster bercerita tentang sesosok pemuda berandalan kampung bernama Jamroni (Hamish Daud). Bahkan ia seringkali dituduh sebagai biang keonaran di Kampung Pasar Sapi, tempat ia tinggal. Jamroni memang dikenal pandai bela diri. Padahal, tidak ada yang tahu bahwa keahliannya itu sebenarnya untuk menjaga Sari (Eriska Rein), seorang gadis yang akrab dengan Jamroni sejak kecil. Hanya Sari penyemangat Jamroni saat Jamroni dihukum dalam kandang kambing karena kenakalannya. Tapi, Jamroni harus merelakan saat Sari dibawa orangtuanya ke Jakarta. Suatu ketika, ayah Jamroni sekarat dan di saat itulah Jamroni tahu bahwa dia bukan anak kandung ayahnya. Ayahnya hanya berpesan bahwa Jamroni harus ke Jakarta untuk mencari jati dirinya. Jamroni pun memutuskan ke Jakarta untuk mencari orangtua kandungnya sekaligus mencari tahu keberadaan Sari. Baru saja menginjakkan kaki di Jakarta, Jamroni sudah harus berhadapan dengan beberapa orang yang mengejar seorang perempuan bernama Retta (Nina Kozok). Dengan keahlian silatnya, Jamroni berhasil menyelamatkan Retta dari orang-orang yang mengejarnya. Ternyata, orang-orang itu adalah orang suruhan Hastomo (Agus Kuncoro), ayah Retta sendiri yang memaksa Retta pulang untuk dinikahkan dengan adik seorang pimpinan ormas paling berkuasa di Jakarta, Amsar (Dwi Sasono). Jamroni yang tidak tahu apa-apa sekarang justru ikut terseret dalam bahaya karena menjadi incaran orang-orang bayaran Hastomo dan Amsar. Tapi, hatinya terketuk untuk menyelamatkan Retta sekaligus menuntaskan misinya mencari siapa orangtua kandungnya sekaligus menemukan Sari.

Selain tiga hal yang saya sebutkan di atas, alasan saya lainnya tertarik menonton film ini adalah kehadiran aktris cantik Dian Sastrowardoyo, berakting laga. Tentu saja itu membuat saya penasaran seperti apa akting Dian yang terbiasa berakting dalam cerita berbau cinta. Hasilnya? Tidak begitu mengecewakan. Walaupun tidak sebaik saat Dian berakting film romance. Film ini sejujurnya memiliki plot yang cukup baik. Bahkan dibuka dengan cukup baik pula. Tidak terlalu bertele-tele menjelaskan sosok Jamroni, sehingga dalam beberapa menit kita sudah langsung bertemu adegan laga saat Hamish Daud bertarung dengan Dede Yusuf. Pengenalan sosok Jamroni pun dibantu lewat insert adegan-adegan flashback sehingga kita mengerti latar belakang Jamroni. Selain itu ‘resep’ tidak bertele-tele sampai bertemu adegan laga juga adalah resep kesuksesan The Raid yang nampaknya coba diadaptasi film Gangster. Sampai titik ini semua berjalan baik menurut saya. Tapi di jelang bagian akhir film, nampaknya sang pembuat terasa ingin mengakhiri film ini dengan seceoat mungkin. Hasilnya, banyak bagian cerita atau adegan yang justru membuat kening penonton berkerut. Contohnya saat Jamroni tahu siapa orangtua kandungnya, tidak ada alasan yang jelas kenapa bayi Jamroni harus diculik sewaktu kecil atau misalkan kenapa seakan-akan karakter Jamroni menjadi mendadak playboy sewaktu dia bingung ditanya perasaannya terhadap Retta. Sementara, di akhir film Jamroni tetap kembali ke cinta pertamanya yaitu Sari. Hal lainnya yang jadi pertanyaan kenapa Jamroni kecil digambarkan taat ibadah dengan belajar ngaji dan sebagainya, tetapi di saat dewasa tidak terasa sama sekali bahwa Jamroni adalah karakter yang punya dasar agama baik. Apalagi di akhir film, saat dia tahu jati dirinya. Malah memegang segelas sampanye. Selain itu masih ada lagi ‘keanehan-keanehan’ lain, seperti saat salah seorang lawan Jamroni muncul selalu didahului bunyi lonceng roti, tidak peduli masuk akal atau tidak. Persis seperti penjahat-penjahat di film superhero anak-anak akan muncul. Dari sisi akting, beberapa pemain cukup membantu mengangkat performa film ini. Sebut saja Dwi Sasono yang berhasil memerankan seorang pimpinan ormas yang ‘ngeselin’ tapi sadis. Dirinya mampu memerankan karakter itu sembari menyisipkan beberapa humor di antaranya. Agus Kuncoro sebagai aktor yang bisa dibilang sudah cukup senior pun demikian. Nina Kozok? Bagi saya sebagai pendatang baru aktingnya cukup baik. Hamish, walaupun sudah cukup baik dalam melakukan adegan perkelahian, tetapi di beberapa scene yang bernuansa drama, aktingnya masih terasa kaku. Rasanya, jika film ini mau dibuat sekuelnya, mari berharap sekuelnya akan jauh lebih baik dari film pertama ini.

Video :

Penulis : Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>