Movie Review : Inside Out

Jika kita penggemar film animasi, pastinya kita akan mengenal nama Pixar. Sebuah rumah produksi yang banyak mengeluarkan film-film animasi dengan kualitas jempolan. Hampir setiap film-film animasi milik Pixar memiliki orisinalitas dari segi cerita, kreatif dalam berkonsep, memakai teknologi animasi mutakhir, memiliki inti cerita mendalam, dan yang tidak mungkin ketinggalan adalah menghibur. Kata menghibur di sini diperuntukkan tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang menemani anak mereka menonton. Inilah kehebatan Pixar yang sulit disamai oleh rumah produksi animasi manapun. Tidak heran jika kemudian muncul ekspektasi yang tinggi terhadap perilisan film terbaru Pixar yang berjudul Inside Out.

Younameit! Productions (Ilustrasi : http://www.forbes.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi : http://www.forbes.com/)

Inside Out memiliki plot cerita sederhana. Seorang bocah perempuan berumur 11 tahun bernama Riley (Kaitlyn Dias) memiliki kehidupan yang bahagia di kota kelahirannya, Minnesota. Sebuah kota yang selalu bersalju tebal saat musim dingin tiba. Keadaaan itu yang menyebabkan Riley menyukai hoki es sejak masih kecil. Tapi, tiba-tiba orang tua Riley memutuskan pindah ke San Fransisco. Sebuah kota yang akan memberikan problematika tersendiri bagi Riley yang sedang dalam masa pubertas. Suasana baru, rumah baru, lingkungan pertemanan baru, sekolah baru, kesemuanya itu memberikan tekanan mental bagi Riley. Tekanan terhadap diri Riley berakibat juga pada meningkatnya kesibukan bagi lima macam emosi yang menghuni pikirannya : Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling). Masing-masing emosi memiliki perannya masing-masing dalam mengendalikan neurologis Riley. Film Inside Out memang memiliki ‘dua dunia’ yang saling berhubungan dalam menuturkan plot cerita. Satu sisi menceritakan dunia nyata dari Riley. Di sisi lain menceritakan alam pikiran Riley dan hal-hal yang membentuk kepribadian Riley. Nah, di saat Riley sedang dalam masa depresi timbul masalah lain yang tidak kalah pelik yaitu saat dua emosi utama dalam diri Riley, Joy dan Sadness, terlempar dari pusat kendali emosi. Absennya dua emosi utama Riley benar-benar mengguncang kepribadian Riley. Pulau-pulau kepribadian yang terbentuk dari ingatan inti Riley satu per satu hancur menyisakan Pulau Keluarga. Apabila Pulau Keluarga hancur, tidak ada lagi yang tersisa dari kepribadian Riley sebelumnya.

Sebuah plot cerita yang buat saya sederhana, mengingat bahwa gejolak pubertas adalah hal yang lumrah. Tapi yang membuat film ini luar biasa adalah bagaimana masalah pubertas itu dilihat dari sudut pandang berbeda yaitu hal-hal yang membentuk dan terkait langsung pikiran remaja itu sendiri. Walaupun belum tentu dalam pikiran kita hanya terdiri dari 5 emosi, tapi di film ini 5 emosi (Joy, Sadness, Fear, Anger, Disgust) itulah yang dipilih. Ini bisa dibilang sebuah keberanian dari seorang Pete Docter untuk membuat sebuah film animasi yang lebih ‘dalam’ dari segi filosofi. Aspek hiburan tentu saja tetap dikedepankan karena biar bagaimana pun juga ini adalah film animasi untuk semua umur. Lewat filosofi yang ‘dalam’ itu tanpa tersadar kita juga ikut mengintrospeksi diri kita sendiri, mana emosi yang menjadi dominan dari diri kita dan kenapa emosi itu bisa menjadi dominan? Pemikiran yang cenderung berat ini berhasil disederhanakan oleh Pete lewat kacamata seorang anak berusia 11 tahun dan cerita ‘di balik layarnya’. Sebuah konsep yang orisinil dan kreatif. Walaupun terkesan berat dan mendalam saya yakin lewat eksekusi yang menarik seperti Inside Out, anak-anak akan menyimpan dalam memori mereka mengenai emosi-emosi apa saja yang ada dalam diri mereka. Tidak perlu mereka harus langsung mengerti selepas menonton, biarkan mereka belajar dari memori itu. Sementara, bagi penonton dewasa ada semacam introspeksi diri seperti yang sudah saya sebut di atas. Keberhasilan film ini juga tentunya ditunjang oleh pengisi suara yang baik. Amy dan Phyllis benar-benar berhasil mengalihsuarakan tokoh Joy dan Sadness dengan sempurna! Seakan kita langsung terlarut dalam kegembiraan ataupun kesedihan saat kedua tokoh ini muncul. Begitupun ketiga tokoh utama lainnya. Satu hal penting yang harus digarisbawahi dari film ini adalah sebuah pesan apakah hidup harus selalu didominasi oleh kegembiraan? Lewat film ini kita akan tersadar bahwa terkadang kita harus mengerti arti kesedihan untuk mendapatkan kegembiraan yang sebenarnya. Film iniā€¦.masterpiece!

Video :

Penulis : Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com/

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Movie Review : Inside Out

  1. Bertie says:

    That’s an expert answer to an ininrestteg question

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>