Movie Review: The Revenant

Pasca kemenangannya di Piala Oscar 2015 sebagai Sutradara Terbaik, rupanya tidak lantas membuat seorang Alejandro Inarittu berpuas hati. Beberapa bulan berselang, Inarittu langsung kembali menggebrak perfilman Hollywood lewat film yang diadaptasi dari kisah nyata berjudul The Revenant. Film ini memang benar-benar berasal dari cerita nyata masa lampau yang dituangkan dalam novel The Revenant: A Novel of Revenge milik Michael Punke. Di tangan Inarittu novel ini diubah menjadi sebuah film petualangan survival berdurasi sekitar 156 menit, yang dibintangi oleh aktor flamboyan, Leonardo Dicaprio.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://variety.com/) Copyright © 2015 Twentieth Century Fox Film Corporation. All rights reserved. THE REVENANT Motion Picture Copyright © 2015 Regency Entertainment (USA), Inc. and Monarchy Enterprises S.a.r.l. All rights reserved.Not for sale or duplication.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://variety.com/)

Film The Revenant berfokus pada sebuah kisah bagaimana bertahan hidup yang luar biasa di tengah kerasnya alam Amerika oleh seorang mantan tentara Amerika, Hugh Glass (Leonardo Dicaprio). Awalnya Glass adalah seorang Amerika yang menikah dengan salah seorang perempuan suku Indian dan tinggal bersama kawanan Indian. Sangat disayangkan, suatu ketika perkampungan Indian tempat Glass tinggal diserang oleh pasukan Amerika dan mengakibatkan istrinya terbunuh. Glass pun harus seorang diri membesarkan putranya. Setelah itu Glass bergabung dengan kawanan pemburu yang harus melarikan diri dari kawanan Indian Arikara atau dikenal dengan suku Ree. Dalam perjalanan itu, ia justri ditinggalkan oleh kawanannya seorang diri setelah sekarat akibat diserang beruang Grizzly. Anak Glass yang berdarah separuh Indian, Hawk (Forrest Goodluck), berusaha mencegah kawan-kawan ayahnya untuk tidak meninggalkannya seorang diri. Tapi, Hawk malah dibunuh oleh salah seorang dari kawanannya, Fitzgerald (Tom Hardy). Lewat serangkaian aksi bertahan hidup yang luar biasa, tidak ada yang menyangka bahwa Glass yang sangat dekat dengan kematian justru mampu bertahan hidup untuk membalas dendam kepada Fitzgerald. Seorang yang meninggalkan dirinya dan membunuh anak satu-satunya.

Sejak film dibuka, saya langsung terpesona tiada henti terhadap keindahan visual yang terpampang di depan saya. Sebuah rangkaian visual yang kelam, dingin, sekaligus indah adalah salah satu sajian utama di The Revenant. Kehandalan seorang Emanuel Lubezki memang benar-benar terbukti dalam menangkap gambar-gambar indah sekaligus berteknik tinggi di alam liar Kanada, Calgary, sampai di Argentina. Rasanya memang tidak salah jika Inarittu melanjutkan kerjasama dengan Lubezki setelah terbukti duet keduanya menghasilkan Piala Oscar 2015. Keputusan Lubezki menggunakan kamera Arri Alexa 65 pun bukan tanpa sebab. Dengan sebagian besar proses shooting dilakukan di alam terbuka, akan sangat sulit jika membawa peralatan yang begitu banyak dan disinilah dibutuhkan kehandalan kamera sekelas Alexa 65. Tapi, semua rangkaian gambar indah hanya akan menjadi potongan klip belaka tanpa ditunjang dengan visi luar biasa dari sutradara sekelas Inarittu. Dirinya berhasil membagi porsi antara karakter yang cukup banyak di film ini dengan adil. Setiap detil pun digarap Inarittu dengan sangat serius demi menghadirkan suasana penderitaan tinggi yang dialami Glass. Sebuah kondisi perang berbeda antara seorang manusia biasa dengan alam liar sukses dihadirkan Inarittu, tanpa melupakan sisi psikologis manusia yang juga menjadi penunjang utama alur ceritanya. Satu hal yang patut saya garis bawahi adalah dua tokoh utama di film ini yaitu Dicaprio dan Hardy. Dicaprio benar-benar melakukan yang terbaik di film ini, menurut saya. Bagaimana sebuah emosi tetap terjaga sepanjang film juga berkat penampilan luar biasa prima dari seorang Dicaprio. Mulai dari terluka parah akibat diserang beruang, makan rumput-rumputan liar, dan bahkan tidur di dalam jeroan kuda pun dilakukan Dicaprio. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Dicaprio bertarung dengan beruang. Tidak ada dialog berarti. Tapi, akting dan ekspresi Dicaprio cukup menggambarkan betapa hebat penderitaan karakter Glass saat itu. Entah harus berperan sebagai apa lagi jika tahun ini Dicaprio tidak mendapatkan Oscar sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Hardy pun juga tampil prima. Sejak awal kemunculannya, Hardy sudah memperlihatkan dirinya sebagai sosok antagonis yang dikuasai oleh ego tinggi, tamak, dan oportunis. Aktingnya bahkan bisa membawa kita ikut kesal dengan perilakunya. The Revenant memang secara sederhana adalah sebuah film tentang balas dendam, namun Inarittu juga menaruh filosofi religius bahwa semua kejadian di dunia ini saling berkaitan dalam sebuah siklus. Glass pun menyadari bahwa bukan manusia yang berhak melakukan balas dendam. Balas dendam ada di tangan Tuhan, entah seperti apa caranya.

Video:

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com/

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>