Movie Review: Batman v Superman – Dawn of Justice

Mungkin review ini bisa dibilang agak terlambat. Sudah hampir tiga minggu berlalu sejak film ini pertama kali rilis di bioskop tanah air. Tapi gegap gempita dan ekspektasi besar yang mengiringi film ini jelas membuat saya merasa perlu menuangkan isi pikiran saya terhadap film ini. Film yang saya maksud adalah film Batman v Superman – Dawn of Justice. Sebuah film yang memang dirancang untuk jadi salah satu film terbesar di tahun 2016. Masih disutradarai oleh Zack Snyder yang juga menyutradarai film prekuelnya, Man of Steel, menjadikan kemegahan film (mungkin) menyamai kemegahan dari film Star Wars terbaru yang rilis akhir tahun 2015, Star Wars – The Force Awakens.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.telegraph.co.uk/)

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.telegraph.co.uk/)

Cerita BvS mengambil setting dua tahun sejak pertarungan Superman/Clark Kent (Henry Cavill) melawan Jenderal Zod (Michael Shannon) di kota Metropolis. Sedemikian dahsyatnya pertarungan tersebut menyebabkan kota Gotham yang berdekatan dengan kota Metropolis ikut luluh lantak. Seisi kota yang hancur menyebabkan begitu banyak kerugian dan kehilangan dimana-mana. Baik itu kehilangan keluarga ataupun kehilangan anggota tubuh. Tidak terkecuali gedung milik Bruce Wayne/Batman (Ben Affleck), Wayne Enterprise. Kejadian ini menyebabkan Batman sangat geram terhadap Superman hingga mencari segala cara untuk menumpas Superman, termasuk mencari batu yang menjadi kelemahan Superman yaitu batu Krypton. Di sisi lain, kehadiran Superman pun tidak sepenuhnya disetujui oleh masyarakat bumi dan menganggap kehadiran Superman pun membahayakan mereka. Tapi Lois Lane (Amy Adams) tidak bisa terima dengan keadaan tersebut. Dia mencari segala cara untuk membuktikan kepada publik bahwa kehadiran Superman tidak berbahaya bagi manusia. Ketidakberpihakan publik terhadap Superman ini berusaha dimanfaatkan oleh pengusaha super kaya, Lex Luthor (Jesse Eisenberg), sebagai pembenaran untuk melenyapkan Superman selama-lamanya. Rupanya, akal licik Luthor tidak hanya sampai di situ. Lewat rencana yang ia susun sedemikian rapi, ia berusaha memanfaatkan kebencian Batman kepada Superman agar Batman dan Superman saling bunuh.

Saya sebagai penonton, jelas memiliki ekspektasi besar terhadap film Batman v Superman – Dawn of Justice. Sama halnya dengan penonton-penonton lainnya mengingat betapa besar promo yang dilakukan film ini bahkan jauh sebelum tanggal perilisan. Sejatinya, film ini memang menghadirkan sebuah tontonan yang luar biasa seru dan spektakuler, hingga tidak heran jika menghabiskan budget sebesar 250 juta dolar. Tapi sayangnya hanya poin itulah yang menurut saya bisa didapatkan setelah selesai menonton film ini. Seru, spesial efek yang spektakuler, dan sinematografi mumpuni dari Larry Fong. Padahal, resep serupa telah diterapkan di prekuel Man of Steel sehingga keseruan di film ini hanya seperti pengulangan dari film pertama. Tidak ada yang benar-benar istimewa. Bagi saya letak kekurangan terbesar film ini adalah dari segi cerita dan karakter. Poin pertama yaitu cerita dimana di film ini cerita yang hendak dibangun adalah sebuah cerita berlapis. Berbeda dari film pertama yang memiliki alur lurus. Dengan banyaknya lapisan cerita akan banyak pula bagian yang harus dijelaskan tanpa meninggalkan kerut ataupun pertanyaan di benak penonton. Bahkan planting information pun tidak ada. Konfilk antara Superman dan Batman pun terasa diselesaikan dengan hambar. Hal itu sangat disayangkan karena sebenarnya dengan cerita yang hendak dibangun ada potensi besar untuk menjadikan cerita film ini jauh lebih menarik tanpa terasa terengah-engah. Nampaknya Zack Snyder bukanlah sutradara yang tepat untuk bertutur dengan gaya berlapis-lapis seperti di film ini. Poin kedua adalah karakter. Di film ini selain karakter Clark Kent dan Lois Lane yang sudah diperkenalkan di film pertama, ada dua karakter utama lainnya yaitu Bruce Wayne/Batman dan Diana Prince/Wonder Woman (Gal Gadot). Sama halnya dengan plot cerita, dengan banyaknya karakter tambahan di film ini akan membutuhkan ruang untuk mengembangkan karakter masing-masing. Hal itu tidak terlihat untuk dua karakter utama yaitu Batman dan Wonder Woman. Ada mimpi-mimpi yang dialami Bruce tapi itu tidak membantu sama sekali untuk menjelaskan seperti apa karakter Bruce Wayne di film ini. Lalu ada seorang Wonder Women yang mengejar Lex Luthor tanpa diceritakan apa motivasi dari seorang Wonder Women mengejar seorang Lex Luthor hingga akhir film. Sehingga karakter seorang Wonder Women jadi tidak terasa penting sama sekali kecuali pemanis film. Gal Gadot memang luar biasa mempesona di film ini. Tapi ‘kegagalan’ deretan karakter itu cukup diselamatkan oleh karakter Lex Luthor yang diperankan dengan baik oleh Jesse. Untungnya selain sinematografi mumpuni, ada poin lain yang boleh dibilang berjalan dengan baik yaitu music scoring yang dikreasikan oleh sang maestro, Hans Zimmer. Musiknya cukup membantu membangun cerita mulai dari awal hingga akhir film. Apakah review ini cukup sarkastik? Bisa jadi. Bahkan situs review Rotten Tomatoes memberikan angka 29% saja untuk film ini yang mana itu setara dengan kualitas film Hollywood kelas B. Ada juga penggemar DC Comics yang membuat petisi agar Zack Snyder dipecat dari kursi sutradara untuk kelanjutan film ini. Lalu siapakah sutradara yang dipilih dan mampu ‘menyelamatkan’ sekuel film ini dari serangan kritik negatif lagi? Pastinya banyak yang berharap akan hadir sutradara sekelas Christopher Nolan yang berhasil membangun sebuah universe baru bagi karakter Batman. Sangat menarik untuk ditunggu.

Video:

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com/

 

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>