Movie Review: Ada Apa Dengan Cinta 2

Saat Mira Lesmana mengumumkan secara resmi bahwa film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang pernah booming di tahun 2002 akan dirilis sekuelnya, jelas itu merupakan sebuah kabar yang begitu dinanti para penikmat film AADC pertama. Mungkin termasuk saya. Bisa jadi karena akhir film AADC terasa menggantung dan menyisakan pertanyaan penting mengenai kemana hubungan Rangga dan Cinta, dua tokoh utama AADC, akan berlabuh? Rasa penasaran itu akhirnya bisa dituntaskan dengan rilisnya AADC 2 di akhir bulan April yang lalu. Kali ini Mira Lesmana menggandeng partner sejatinya, Riri Riza untuk duduk di kursi sutradara.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://indowarta.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://indowarta.com/)

Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) berpisah secara indah dan sepakat menjalani hubungan jarak jauh di akhir kisah film AADC (2002). Setelah itu mereka menjalani hubungan jarak jauh hingga 5 tahun lamanya. Tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, Rangga memutuskan Cinta hanya lewat sepucuk surat. Keputusan Rangga membuat hidup Cinta hancur selama bertahun-tahun, hingga akhirnya Cinta bisa menata kembali hidupnya dan bertunangan dengan Trian (Ario Bayu). Sebuah awal yang bisa jadi baik untuk kehidupan Cinta berikutnya. Ditambah dengan kenyataan bahwa salah satu anggota geng Cinta yaitu Karmen (Adinia Wirasti) baru selesai dari rehabilitasi narkoba setelah suaminya kabur dengan wanita selingkuhan. Ini yang membuat Cinta mengajak Karmen, Milly (Sissy Priscillia), dan Maura (Titi Kamal) berlibur ke Jogja. Sementara di tempat lain, Rangga rupanya juga masih belum bisa move on dari Cinta sejak memutuskannya 9 tahun lalu. Kedatangan tiba-tiba adik tiri Rangga yang mengabarkan bahwa ibu kandungnya sudah sakit-sakitan dan sekarang tinggal di Jogja, seakan menjadi alasan yang tepat untuknya kembali ke Indonesia. Sebuah peristiwa kebetulan memang hanya ada di film dan di film ini Cinta dan Rangga secara kebetulan bertemu di Jogja, setelah Karmen dan Milly secara tidak sengaja melihat Rangga memasuki sebuah guest house. Jogja diplot menjadi sebuah tempat eksotis yang akan menentukan nasib hubungan keduanya, hanya dalam waktu satu malam.

Berbicara film AADC pertama kita akan berbicara sebuah film cinta monyet yang terasa komplit dalam menceritakan seluk beluk anak SMA di masa itu. Kemudian cerita cinta itu dibawa ke dalam sebuah masa 14 tahun berselang. Sekumpulan geng cewek remaja pun sudah berubah menjadi sekumpulan geng wanita dewasa dengan lika liku kehidupan masing-masing. Cinta, Maura, dan Milly tidak memiliki perubahan karakter yang ekstrem dibandingkan karakter mereka 14 tahun silam. Hanya Karmen yang karakternya berkembang drastis di film ini. Bagi saya keputusan mempertahankan karakter Cinta. Milly, dan Maura kemudian mengembangkan karakter Karmen di film ini adalah keputusan tepat. Sebab, Karmen dengan berbagai permasalahan yang dilaluinya menjadi sosok yang tepat untuk menjembatani permasalahan Cinta dan Rangga. Hanya saja, kalau ada kekurangan dari para karakter itu adalah Maura yang bagi saya kalau sosok ini dihilangkan juga tidak masalah. Karakter di film pertama yang menurut saya penting tapi justru dihilangkan adalah karakter Alya yang diperankan Ladya Cheryl. Diceritakan dalam film ini, Alya meninggal karena kecelakaan. Karakter Rangga pun berkembang. Dari yang tadinya hanya bisa menampilkan raut muka datar dan dingin, menjadi lebih terbuka dalam mencurahkan perasaannya. Terasa lebih berwarna. Sosok Cinta pun tidak kalah menarik. Selain karena sosok Dian Sastro yang tetap cantik, sisi emosional khas wanita dipadu dengan unsur humor yang ditampilkan lewat ekspresi datar justru membuat karakter Cinta juga berwarna. Milly walaupun tidak ada perkembangan karakter, celetukan-celetukan konyolnya tetap mampu menjadi scene stealer. Kekurangan yang begitu terasa di film ini adalah dimana semua hal terasa dipaksakan untuk diceritakan secara cepat tanpa ada unsur tarik ulur untuk membiarkan perasaan penonton ‘bermain’ secara leluasa. Itu sebabnya dialog di film ini terasa ‘gemuk’ karena banyak hal diceritakan lewat dialog dan bukannya bahasa gambar. Jika kita tidak memberi perhatian sedikit saja, sudah pasti akan ada banyak background story yang terlewatkan. Pemilihan Jogja sebagai lokasi yang eksotis pun tidak terasa berpengaruh di film ini. Kemudian, bagi saya pribadi kekurangan yang harusnya bisa diantisipasi adalah bagaimana film ini akan berakhir. Adanya scene menjelang ending yang mirip dengan AADC pertama tidak di-treat dengan sedikit twist tertentu yang bisa lebih mengaduk-aduk perasaan penonton. Menjelang akhir kita sudah bisa menebak akhir kisah cinta antara Rangga dan Cinta. Walau demikian, kita masih bisa tersentuh melihat keindahan hubungan Cinta dan Rangga meskipun nampaknya tidak perlu ada AADC selanjutnya.

Video:

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com/

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>