Movie Review: X-Men: Apocalypse

DC dan Marvel nampaknya memang sedang berusaha bersaing sengit dalam memperebutkan tahta penguasa dunia perfilman superhero. Setelah DC Universe merilis film yang demikian ‘bombastis’, Batman v Superman (BvS): Dawn of Justice, Marvel Cinematic Universe pun nampaknya juga tidak mau berdiam diri. Mereka langsung merilis Captain America – Civil War tidak lama setelah BvS. Tidak cukup sampai di situ, Marvel Universe kembali merilis sekuel lainnya dari franchise X-Men yang berjudul X-Men – Apocalypse di bulan Mei ini.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.comicbookmovie.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.comicbookmovie.com/)

Film yang masih di bawah komando Bryan Singer seperti di film sebelumnya yaitu X-Men – Days of Future Past dan beberapa film X-Men lainnya, bercerita tentang masa 10 tahun setelah cerita di Days of Future Past. Tepatnya di tahun 1983 yaitu tahun dimana seorang agen CIA, Moira McTaggert (Rose Bryne) merasakan sebuah ‘peringatan’ berbahaya bagi dunia. Peringatan tersebut berasal dari tanda-tanda kebangkitan sesosok mutan paling tua sekaligus (bisa jadi) paling kuat di muka bumi, En Sabah Nur (Oscar Isaac). Ternyata firasat ini juga dirasakan oleh Jean Grey (Sophie Turner), lewat mimpi buruknya. Sabah yang melihat bumi penuh dengan kekacauan, konflik, perang, dan kehancuran berencana membangun ulang bumi dengan melenyapkan yang lemah dan menyisakan yang kuat. Seperti hukum evolusi. Keadaan ini berhasil diketahui oleh orang-orang di sekolah mutan Profesor Charles Xavier (James McAvoy), termasuk asisten kepercayaan Charles, Hank/Beast (Nicholas Hoult) dan murid lama Charles, Raven/Mystique (Jennifer Lawrence). Mereka berusaha menghentikan pemusnahan bumi oleh Sabah Nur dan 4 pengawalnya: Storm muda (Alexandra Shipp), Psylocke (Olivia Munn), Angel (Ben Hardy), dan Magneto (Michael Fassbender). Sayangnya, usaha menyelamatkan bumi dari proses penghancuran masal seperti menemui jalan buntu, apalagi setelah Profesor Charles berhasil dilumpuhkan dan diculik oleh Sabah Nur. Ternyata kekuatan Charles yang mampu mengetahui dan berhubungan dengan setiap makhluk di muka bumi, satu-satunya kekuatan yang belum dimiliki oleh Sabah Nur.

Mendengar kata Apocalypse pastinya kita membayangkan keadaan yang mendekati gambaran kiamat. Tenang saja, di film ini adegan hancur-hancuran masal tetap akan kita temui seperti layaknya film superhero ala The Avengers. Tapi memang formula perang kejahatan melawan keadilan yang melibatkan adegan bombastis sudah menjadi formula yang terlalu umum, kalau tidak mau dibilang basi. Bahkan Marvel sudah mencoba merumuskan plot cerita dari berbagai sudut pandang lain demi menemukan kedalaman cerita maupun karakter. Nah, kedalaman cerita ini yang justru tidak saya rasakan di film X-Men – Apocalypse. Kalah jauh bila dibandingkan dengan cerita sebelumnya di X-Men – Day of Future Past. Pemaparan cerita terlalu terkesan buru-buru diselesaikan supaya lekas sampai di adegan klimaks yaitu kiamat ala Sabah Nur. Padahal menurut saya ada cerita yang akan terasa lebih dalam bila dikembangkan yaitu cerita dari sisi Magneto yang sudah mencoba hidup normal di Polandia sebagai buruh pabrik. Tapi sayang, sebuah kejadian yang menyebabkan anak dan istrinya terbunuh menyebabkan Magneto kembali kehilangan kendali dan menerima ajakan untuk bergabung dengan Sabah Nur. Menurut saya, dari keempat pengawal utama Sabah Nur cuma Magneto yang memiliki latar kuat untuk berbuat jahat. Lainnya, hanya seperti tempelan belaka. Hanya Olivia Munn yang tampil mempesona dengan kecantikannya walau minim dialog. Padahal kalau berdasarkan cerita dalam film, keempat pengawal Sabah Nur menurut Alkitab, merupakan sosok penting di setiap masa yang melibatkan Sabah Nur. Jika menilik bahwa keempat pengawal itu adalah sosok penting harusnya ketiga pengawal lain di luar Magneto juga memiliki pembangunan karakter yang juga kuat. Memang masih ada side story lain yang juga menarik untuk diceritakan seperti awal mula Scott Summer/Cyclops (Tye Sheridan) mendapat kekuatannya dan dekat dengan Jean. Atau saat cameo Wolverine (Hugh Jackman) sedikit muncul dan menjadi awal mula Wolverine bertatap muka dengan Jean. Tapi itu hanya side story dan tidak mampu untuk menopang sebuah cerita yang kuat hingga akhir film. Walaupun, sejujurnya saya sangat suka dengan narasi Profesor Charles di pembuka film yang singkat namun seakan menjadi rangkuman film keseluruhan, tapi sayangnya film ini tetap terasa hambar.

Video:

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com/

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>