DVD Review: Suicide Squad

Alasan kenapa ada film yang masuk ke artikel Movie Review dan ada sebagian lainnya yang masuk ke DVD Review sebenarnya simpel. Untuk film-film baru yang masih tayang di layar bioskop maka penulis akan memasukkannya ke artikel Movie Review. Sementara film yang sudah tidak tayang di layar bioskop dan penulis baru sempat mengulasnya atau bahkan baru sempat menontonnya, maka akan dimasukkan ke artikel DVD Review. Informasinya semoga berguna ya?haha. Nah, untuk film yang akan dibahas di DVD Review kali ini adalah film dari DC Universe yang berjudul Suicide Squad yang disutradarai David Ayer. Kenapa harus Suicide Squad? Berhubung beberapa hari lalu saya baru saja menulis review tentang film Wonder Woman dan euforia dari kesuksesan film keempat DC Universe ini masih terasa, maka tidak lengkap jika saya tidak segera menuliskan review dari film ketiga DC, Suicide Squad. Apakah film ini memiliki plot semenarik dan sesukses Wonder Woman? Bagi yang belum menonton filmnya harap jangan kecil hati ya, walau film ini mendapat begitu banyak respon negatif dari kritikus film.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://screenrant.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://screenrant.com/)

Sudah ‘kodrat’ penjahat atau supervillain menjadi sosok yang dikalahkan oleh superhero. Kemudian tewas atau diserahkan ke pihak berwajib. Tapi ternyata sosok penjahat bisa juga dimanfaatkan untuk sebuah misi yang berguna bagi kelangsungan umat manusia. Sebuah ide unik yang nampaknya hanya akan ada di dunia komik saja pengimplementasiannya. Pasca kejadian di film Batman v Superman, pemerintah mulai mencari cara agar ancaman meta human dapat dicegah di masa mendatang. Hal inilah yang mendasari Amanda Waller (Viola Davis) membuat sebuah proposal tentang tim super yang terdiri dari para penjahat berkeahlian tinggi di seluruh dunia. Lewat proposal ini Amanda mengumpulkan Deadshot (Will Smith), Harley Quinn Margot Robbie), Captain Boomerang (Jai Courtney), El Diablo (Jay Hernandez), dan Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje) dalam sebuah tim super. Tujuannya, untuk mengatasi segala macam ancaman dari berbagai meta human di masa mendatang. Lalu tiba-tiba ada serangan teroris di Midway City dan tim ini pun dipanggil untuk menyelamatkan orang penting/VIP. Di bawah pimpinan Rick Flagg (Joel Kinnaman), tim ini mau tidak mau harus melaksanakan misi ini walau belum tahu sehebat apa musuh yang akan mereka hadapi.

Tidak salah jika menyebutkan bahwa film ini adalah salah satu film superhero paling ditunggu di 2016 lalu. Data yang bertebaran di internet menyebutkan bahwa film ini berhasil merajai perbincangan di jagad Twitter. Setidaknya mengalahkan perbincangan mengenai Finding Dory dan juga remake Ghostbuster. Dalam hal ini, kerja keras tim pemasaran film ini patut diacungi jempol karena berhasil menyedot perhatian yang begitu besar. Apalagi ditambah dengan trailer-trailer apik yang dirilis via YouTube. Sayangnya, kesemua usaha itu ‘sia-sia’ saat berhadapan dengan betapa lemahnya plot cerita dari film ini. Utamanya adalah kedangkalan konflik dan pembangunan karakter yang tidak menyeluruh terhadap semua tokoh yang terlibat. Hasilnya, selain cerita yang mengarah ke klise akibat ketidakjelasan premis cerita, kehadiran beberapa anggota Suicide Squad pun ada yang tidak terasa penting. Kalau boleh dibilang mereka tidak ada pun film ini akan tetap berjalan. Kasar memang. Tapi itu yang terjadi. Tentunya yang paling krusial adalah kehadiran Joker yang sama sekali tidak maksimal. Sosok Joker yang hendak dibentuk secara berbeda oleh Jared Leto terlihat seperti tempelan semata. Padahal Joker versi Leto bisa saja lebih fresh, klimis layaknya di komik, sekaligus sadis di saat bersamaan. Jika saja Joker lebih dieksplorasi bisa jadi memberikan sentuhan berbeda dalam film ini. Apalagi Jared Leto bukan aktor sembarangan dan sempat meraih Oscar beberapa waktu lalu. Tapi walaupun film ini secara cerita masih bisa dibilang gagal, ada beberapa aspek positif dari film ini. Salah satunya adalah visual. David Ayer sang sutradara benar-benar mampu memastikan semua komponen visual berada pada tempatnya. Misalnya adalah Ayer menggunakan warna cerah dan grafis yang juga memukau sekaligus colorful, senada dengan tone dari film ini. Sesuatu yang positif karena dibanding film Batman v Superman serta Man of Steel yang terlalu suram dan seakan ‘terjebak’ dalam gaya Nolan, gaya Ayer ini adalah sesuatu hal yang bisa disebut terobosan baru. Ayer pun mampu menyelipkan humor-humor yang pas dan bertebaran di berbagai sudut film tapi tidak terasa kacangan. Ini juga salah satu yang mendukung gaya visual Ayer. Hal yang juga poin positif film ini adalah musik yang memikat. Bahkan setiap karakter nampaknya memiliki soundtrack-nya masing-masing. Musik yang dipakai juga cukup memperkuat nuansa bad guys atau kumpulan penjahat di film ini. Boleh dibilang musik-musik yang dipakai berkarakter dan memiliki ‘tekstur’. Hal positif terakhir yang tidak boleh dilupakan jelas akting Margot Robbie sebagai Harley Quinn yang begitu memikat dan menyita hampir seluruh porsi film ini seorang diri. Dialah karakter penyelamat film ini. Mulai dari akting, make up hingga kostum, dinilai oleh banyak orang-termasuk saya sendiri, sangat mendukung penokohan karakter Quinn. See…walaupun secara plot cerita film Suicide Squad harus bekerja sangat keras untuk memperbaiki sekuelnya, at least buat para penikmat film masih ada poin-poin yang menjadikan film ini tetap bisa dinikmati.

Video:

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>