Movie Review : Wonder Woman – Rise of the Warrior

DC Universe memang memiliki deretan superhero yang keren. Sebut saja Batman, salah satu karakter superhero favorit saya. Lalu ada Superman, The Flash, Aquaman, dan juga ada sang superhero wanita, Wonder Woman. Karakter superhero wanita yang disebut terakhir baru saja rilis dan disutradarai oleh sutradara yang juga wanita, Patty Jenkins. Tapi, para pecinta superhero di seluruh belahan dunia khawatir nasib film Wonder Woman tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya: Man of Steel, Batman v Superman, dan Suicide Squad. Keren dari segi eksekusi tapi plot ceritanya tidak kuat. Sebuah tantangan luar biasa bagi seorang Patty Jenkins karena ini adalah pertama kalinya buat seorang perempuan mensutradarai film superhero live action dengan bujet lebih dari 100 juta dolar.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.denofgeek.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.denofgeek.com/)

Wonder Woman atau yang memiliki nama Diana (Gal Gadot). Seorang putri dari Ratu Amazon, Hippolyta (Connie Nielsen), yang memiliki keyakinan bahwa setiap rakyat Amazon harus siap untuk menyelamatkan dunia, apabila Ares sang dewa perang kembali muncul. Keyakinan itu semakin membuncah sejak ia dilatih dengan sangat keras oleh bibinya, Jenderal Antiope (Robin Wright). Hingga suatu ketika pulau Amazon yang tersembunyi berhasil ‘diterobos’ oleh pilot mata-mata Inggris, Steve Trevor (Chris Pine). Sayangnya, Steve tidak sendiri. Dia dikejar oleh pasukan Jerman yang berada di bawah pimpinan Jenderal Ludendorff (Danny Huston) karena mencuri buku formula milik Dr. Maru (Elena Anaya). Berkat bantuan pasukan Amazon, pasukan Jerman berhasil ditumpas walau harus dibayar mahal dengan tewasnya Antiope. Dari keterangan Steve bahwa perang sudah menyebar ke seluruh dunia dan Diana menganggap bahwa sosok Ares sudah kembali muncul. Diana pun bersikeras pergi meninggalkan pulau untuk menghentikan Ares, walau ditentang keras oleh ibunya. Kematian Antiope yang sangat dekat dengannya turut membulatkan tekad Diana.

Jujur, saya pun sedikit khawatir terhadap film ini. Jelas tidak khawatir terhadap pesona Gal Gadot yang luar biasa saat memerankan tokoh Diana/Wonder Woman. Tapi lebih kepada kekhawatiran pengembangan plot cerita yang lemah seperti beberapa film DC sebelumnya: Man of Steel atau Batman v Superman. Sebab, jika film ini kembali gagal, nantinya masyarakat bisa jadi lebih memilih menonton film-film Marvel ketimbang DC. Sayang sekali, sebab superhero dari DC pun memiliki kualitas wahid. Tapi, durasi 140 menit yang saya lewati membuktikan sebaliknya. Film ini bagus! Baik dari segi eksekusi maupun plot. Sangat bermakna. Sejak Christopher Nolan sukses menghadirkan trilogi The Dark Knight lewat tampilan yang kelam dan karakter utama terhimpit oleh kenyataan yang menyiksa batin, seakan menjadi sebuah black hole bagi kreator film DC lainnya. Hampir semua film DC seakan terseret masuk ke dalam sebuah ‘resep’ yang dirasa bakal sesukses trilogi The Dark Knight. Kenyataannya tidak seperti itu. Konsep memanusiakan superhero memang tepat. Tapi kalau harus memaksakan konsep kelam dan depresi sementara karakternya tidak mendukung konsep tersebut, plot cerita jadi sangat lemah. Patty Jenkins nampaknya menyadari hal itu. Dia mengambil konsep lain dari ‘memanusiakan’ superhero lewat karakter Diana yang mengalami shock culture saat menghadapi dunia luar. Konyol tapi tidak dengan nuansa yang sedemikian fun. Kepolosan Diana saat mencuri pusaka Amazon demi mendapat kekuatan besar pun menjadi bentuk lain betapa manusiawinya sosok Diana. Karakternya yang hanya ingin berbuat baik untuk umat manusia berhasil diimbangi dengan karakter Steve Trevor yang juga terinspirasi dari kata-kata ayahnya. Saya suka dua karakter ini dan bagaimana mereka saling mengisi satu sama lain. Poin penting lain dari film ini adalah bagaimana mereka mengangkat tema feminisme lewat adegan dan dialog-dialog yang cerdas. Padahal pada saat Perang Dunia 1, peran wanita memang sangat rendah dan dianggap sebelah mata. Perdebatan Diana dan Steve saat hendak maju ke garis depan memperlihatkan bahwa sosok wanita bisa memiliki peran yang seimbang dengan sosok pria. Lalu tema yang juga tidak kalah penting adalah cinta. Tidak lengkap rasanya sebuah film jika tidak memasukkan unsur ini. Lewat cinta pula Diana disadarkan bahwa umat manusia patut diselamatkan. Lewat cinta juga Diana merasakan apa itu arti kehilangan. Sebuah adegan menjelang akhir antara Diana dan Steve menjadikan unsur cinta di film ini tidak menjadi unsur cinta yang kacangan. Kekurangan yang agak mengganggu mungkin akting Gadot yang masih belum maksimal. Mungkin karena Gadot juga harus beraksen Amazon dan itu menyulitkannya. Tapi kepiawaian Pine dalam menyeimbangkan antara karakter Diana dan Steve berhasil menutupi kekurangan itu. Hal terakhir yang juga terasa mengganggu adalah adegan hancur-hancuran di bagian akhir yang terasa terlalu berantakan. Kurang enak secara visual dan sama sekali tidak terlihat perencanaan yang rapi. Sebuah poin minus yang harus diperbaiki Jenkins bila ingin membuat sekuel dari Wonder Woman ini. Tapi, jika DC ingin mengejar ketertinggalan dari Marvel, film Wonder Woman bisa jadi awal mula yang bagus.

Video

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>