Movie Review: Spider Man – Homecoming

Sebagai salah satu tokoh superhero, Spider Man adalah salah satu tokoh komik dari Marvel yang sangat populer. Mungkin kalau dari pihak DC hanya nama Superman ataupun Batman yang bisa menandingi kepopulerannya. Mungkin karena itulah pihak Marvel Studio berulang kali berusaha membuat film Spider Man yang benar-benar pas dengan kemauan mereka. Mulai dari Tobey Maguire, lalu ada nama Andrew Garfield, hingga yang terakhir adalah Tom Holland. Mungkin di bayangan para petinggi Marvel Studio, jangan sampai tokoh komik paling populer di Marvel Cinematic Universe ini kualitas filmnya justru kalah dengan tokoh komik Marvel lainnya yang sudah lebih dahulu difilmkan. Apalagi ada keinginan untuk memasukkan tokoh yang akrab dipanggil Spidey ini ke dalam cerita Avengers. Sebuah tantangan berat yang mengiringi langkah Jon Watts dalam menggawangi film ini.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.superherohype.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.superherohype.com/)

Setting waktu dari film Spider Man – Homecoming ini adalah beberapa saat setelah peristiwa yang terjadi pada Civil War berakhir. Dimana sang Captain America sudah dianggap residivis. Tony Stark (Robert Downey Jr.) yang mengajak Spider Man/Peter Parker (Tom Holland) bergabung membantu tim Iron Man saat melawan tim Captain America, kemudian memberikan kostum Spider Man yang sudah dibuat sedemikian canggih kepada Parker. Pesannya singkat, agar bisa digunakan untuk berlatih dalam melakukan kebaikan. Bagai anak kecil yang baru saja mendapat mainan, Parker senang bukan main dan menyimpan kostum canggih tersebut. Parker berharap suatu saat dipanggil kembali oleh Stark untuk sebuah misi besar. Tapi walaupun sudah hampir tiap hari menghubungi Stark maupun asistennya, tidak ada balasan sama sekali. Parker memang melakukan banyak kebaikan-kebaikan kecil seperti menangkap maling sepeda hingga membantu orang tua yang tersesat. Tapi baginya itu belum cukup. Hingga suatu saat dirinya memergoki sekelompok orang yang hendak membobol ATM menggunakan sebuah senjata canggih. Sebuah senjata yang menggunakan bahan baku dari sisa-sisa alien di pertempuran Avengers. Penyelidikan Parker membawanya ke sebuah kenyataan bahwa senjata-senjata canggih tersebut diciptakan oleh seorang penjahat berkostum burung besi bernama Vulture/Adrian Toomes (Michael Keaton). Keinginan Parker untuk beraksi lebih lanjut dalam mengungkap kasus ini, terhalang oleh larangan Stark agar Parker menahan diri untuk terlibat dalam masalah besar.

Apa yang bisa membedakan film Spider Man – Homecoming dengan film-film Spider Man terdahulu? Buat saya jawabannya ada pada pengembangan cerita yang lebih personal, utamanya menangkap fenomena usia pelajar yang lagi sedemikian hype akibat memiliki kekuatan super plus kostum canggih. Bagaimana Peter harus mengontrol ego dan kekuatannya secara bersamaan, sementara jiwa mudanya begitu membuncah. Ini menjadi salah satu poin plus untuk film ini. Peran Peter Parker rasanya sangat tepat diserahkan kepada Holland. Kekikukannya, tingkahnya sebagai remaja, ditambah fisiknya yang memang masih muda, menjadikan Tom Holland sebagai Peter Parker terbaik sejauh ini. Porsi percintaan dalam film ini pun tidak terlalu banyak dan tidak mengganggu mood film keseluruhan. Bagaimana Parker hanya mengagumi seniornya dari jauh dan merasa tidak percaya diri untuk menyatakan perasaannya, menjadi satu paket dengan tema cerita remaja SMA yang menjadi pondasi utama film ini. Bahkan saat Parker berkostum Spider Man tidak luput dari guyonan. Jika kita perhatikan seorang Spider Man bahkan harus berlari mengejar penjahat karena tidak ada gedung tinggi untuk menyemprotkan jaring laba-laba. See? Itu sebuah adegan yang begitu masuk di akal sekaligus menyelipkan humor tersendiri. Ada satu lagi karakter yang juga mencuri perhatian yaitu karakter Bibi May yang diperankan oleh Marisa Tomei. Keputusan Watts untuk menyerahkan karakter May ke tangan Tomei juga dirasa tepat. Nampaknya Watts berkeinginan agar karakter May juga menjadi salah satu karakter yang menarik perhatian dan bukan menjadi karakter ‘tempelan’ seperti di film-film Spider Man terdahulu. Karakter musuh Spidey di film ini pun juga menjadi kekuatan utama dalam film. Bagaimana karakter Vulture terbentuk, semuanya lewat sebuah penuturan yang logis dan masuk akal. Ditambah lagi¬†lewat akting yang mumpuni dari aktor kawakan Michael Keaton, tokoh Vulture terasa lebih mengerikan. Hal terakhir yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana Jon Watts membuat film ini minim aksi hancur-hancuran yang kelewat bombastis. Adegan pertarungan final Spider Man dengan Vulture pun dibuat minimalis tapi tetap asyik dilihat. Porsinya dibuat sedemikan pas sesuai porsi Spider Man di film ini yaitu sebagai pahlawan ‘kecil’ yang siap membela masyarakat biasa. Bukan seorang pahlawan super yang bertanggung jawab menyelamatkan dunia. Film ini benar-benar sebuah film Spider Man yang memuaskan. Semoga kepuasan penonton dan treatment cerita yang apik tetap menjadi kekuatan film Spider Man berikutnya.

Video:

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com

 

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>