Movie Review: Transformers – The Last Knight

Franchise untuk film Transformers sudah begitu lekat dengan nama sutradara Michael Bay. Memang sudah sepuluh tahun berselang sejak film pertama Transformers rilis di 2007. Bay juga yang mengorbitkan nama seorang Megan Fox dan Shia Labeouf hingga mendunia. Megan Fox sendiri berubah 180 derajat menjadi artis seksi yang begitu diidolakan kaum adam, from no one. Hingga akhirnya tersiar kabar bahwa Bay memutuskan mundur dari kursi sutradara franchise Transformers, pasca film kelima Transformers – The Last Knight rilis. Ini akan terjadi kalau Bay tidak menarik omongannya kembali di masa mendatang. Kemungkinan Bay untuk kembali tertarik duduk di kursi sutradara bukan tanpa sebab. Alasan utama adalah kesuksesan komersial yang luar biasa dari film-film Transformers. Walaupun sayangnya, sejak film kedua rilis, kritik negatif hampir tidak pernah lepas dari perilisan film-film Transformers.

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.withanaccent.com/)

Younameit! Productions (Ilustrasi: http://www.withanaccent.com/)

Plot cerita Transformers sekuel kelima ini adalah Optimus Prime meninggalkan bumi untuk mencari penciptanya, Quintessa (Gemma Chan), serta mencari alasan di balik hancurnya planet Cybertron. Di bumi, kaum Transformers sudah kehilangan kepercayaan manusia karena hanya mengakibatkan kehancuran fisik planet bumi. Para robot yang tersisa pun harus bersembunyi dari kejaran tentara pemerintah. Seorang Cade Yaeger (Mark Wahlberg) pun harus bekerja keras untuk menyembunyikan teman-teman Autobotnya. Karena ini pula Cade menjadi buronon tentara pemerintah, yang salah satu pimpinannya adalah Kolonel Lennox (Josh Duhamel). Walaupun keadaan bumi sedang kacau balau, ras robot terus berdatangan ke bumi. Ternyata para robot tersebut sedang mencari sebuah benda pusaka yang menjadi kunci jawaban atas keberadaan Transformers di bumi sekaligus jembatan untuk membangun kembali planet Cybertron yang sudah musnah. Seorang bangsawan Inggris, Sir Edmund Burton (Anthony Hopkins), yang mengetahui cukup banyak tentang benda pusaka tersebut segera menjemput Cade dan mempertemukannya dengan Vivianne (Laura Haddock), seorang profesor muda dari Oxford. Sebab di tangan mereka berdua, keselamatan bumi dari serbuan robot-robot jahat pimpinan Megatron, dipertaruhkan.

Bagi seorang Michael Bay, film kelima ini pastinya diharapkan menjadi semacam ‘warisan’ terbaik dari deretan franchise Transformers yang sudah dia besut. Harapannya memang demikian. Tapi apa daya, cerita dari sekuel kelima ini benar-benar lemah. Tidak terstruktur secara baik. Bahkan, terasa hanya seperti potongan-potongan plot yang disusun secara asal oleh seorang penulis yang bukan kelas Hollywood. Sorry to say about that, Mr. Bay. Ide memasukkan mitologi ksatria Inggris di jaman Raja Arthur pun tidak mampu menyelamatkan pondasi cerita film ini. Beberapa karakter dan plot cerita saling tumpang tindih. Tidak tahu bagaimana asal muasalnya, tiba-tiba hadir di layar hingga membuat kening kita berkerut hampir di sepanjang film. Bahkan aktor sekelas Anthony Hopkins pun bisa dianggap tidak jelas peranannya di film karena tiba-tiba saja dia menjadi narator film ini atau tiba-tiba Optimus yang berubah menjadi jahat menjadi baik hanya karena mendengar suara Bumblebee yang lama menghilang. Setelah itu, entah kenapa suara Bumblebee hilang lagi tanpa sebab. Sosok utama, Cade Yaeger pun saat momen menjadi the choosen one, nampak seperti hanya kebetulan semata. Hal yang sangat mengganggu lainnya adalah adegan akhir yang berisikan hancur-hancuran, sangat berantakan. Bahkan saya sendiri tidak tahu itu siapa lawan siapa atau dimana lokasi persisnya. Terlampau chaos untuk dipahami mata awam. Agaknya cerita dan karakter memang bukan spesialisasi Bay. Baginya film bombastis itu adalah film dengan plot sangat sederhana dan diceritakan pula dengan sederhana, lalu divisualkan dengan spesial efek yang luar biasa. Memang poin plus dari film ini jelas penggunaan spesial efek yang semakin canggih dan bagi penggemar spesial efek, seperempat akhir film jelas sangat memanjakan mata. Lalu, bukan Bay kalau tidak menggunakan seorang wanita cantik super seksi dalam filmnya. Kali ini seorang Laura Haddock yang dipilih untuk menghidupkan aura seksi dalam film ini. Film ini terlampau lama untuk sebuah resep yang sudah berulang dari film pertama, sekitar 2.5 jam persis! Keputusan Bay untuk menyudahi perannya sebagai sutradara franchise Transformers rasanya sudah tepat. Film ini sudah saatnya membutuhkan kedalaman cerita dan tidak lagi mengandalkan kecanggihan spesial efek semata, karena penonton saat ini sudah semakin pintar dan sangat kritis.

Video:

Penulis: Reza Iswahyudi Rusdi

http://younameit-id.com

About rezarusdi

Director of Younameit! Productions
This entry was posted in Artikel, Behind The Story, Film & DVD, Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>